Senin, 06 Maret 2017

Bebek Tepi Sawah, “Even the Duck Can Fly”



Ingat bebek, pasti ingat Ubud. Seolah-olah kuliner yang satu ini begitu lekat dengan imej desa seni bertaraf Internasional ini. Salah satu restoran bahkan sukses mengawini pesona alam Ubud dengan cita rasa bebek goreng yang kaya bumbu tradisional Bali tersebut. Adalah Bebek Tepi Sawah, sebuah brand restoran lokal Bali yang mampu mengantarkan menu bebek ke taraf yang lebih eksklusif.


Restoran yang berdiri sejak tahun 1999 in baru mencapai popularitasnya di tahun 2000-an. Namanya pun kerap dibicarakan di tengah-tengah forum pencinta kuliner serta jejaring sosial. Sebuah situs travel Internasional terkemuka pun pernah merangking restoran ini di posisi pertama dalam kategori restoran terbaik di Ubud. Bukan tanpa keistimewaan, justru Bebek Tepi Sawah menghadirkan menu bebek goreng yang khas dari segi racikan bumbunya. Menu yang terkenal dengan sebutan Bebek Tepi Sawah Crispy Duck tersebut amat renyah dan garing saat dikunyah, Bebek Tepi Sawah seolah mematahkan imej daging bebek yang dikenal rentan a lot tersebut.

Terlebih menu primadona dari restoran milik I Nyoman Sumerta tersebut menggunakan bebek lokal Bali yang dikenal dengan dagingnya yang empuk serta kualitas rasanya yang kuat. Demi menambah keunikan cita rasanya, di dalam sepaket menu Bebek Tepi Sawah Crispy Duck pun disajikan tiga jenis sambal yakni  sambal matah, sambal goreng embe Bali, dan sambal ulek. Apalagi santapan bebek ini juga disandingkan dengan kenikmatan sayur kalasan kacang panjang ala Bali.

Di dalam perkembangannya, Bebek Tepi Sawah tak hanya menawarkan si primadona ‘bebek goreng’ sebagai menu andalan, tetapi ada juga beberapa varian hidangan  mulai dari tipikal western seperti pork ribs hingga seafood semisal ikan bakar. “Di beberapa gerai seperti di Seminyak dan Tuban, kami juga menawarkan menu pasta untuk menambah varian menu bagi turis asing di sana” ungkap I Nyoman Sumerta.


Sesuai dengan namanya Bebek Tepi Sawah, konsep restoran dengan pemandangan sawah pun menjadi ikon kedua setelah hidangan bebeknya. Arsitektur bangunannya pun didesain sendiri oleh I Nyoman Sumerta dengan konsep yang sedemikian Bali; khas dengan bale-bale, gapura dan detil ornamen Bali. Bahkan, Nyoman begitu sapaan akrab beliau mendirikan sebuah panggung terbuka sehingga para pengunjung dapat dengan leluasanya menikmati pertunjukan tari dan gamelan secara live di hari-hari tertentu. Di Bebek Tepi Sawah, pengunjung juga dapat menikmati sebuah galeri seni milik Nyoman yang memajang ratusan lukisan karyanya bersama rekan-rekan seniman.

Dengan lokasi restoran yang agak menjorok ke dalam dan tidak terlalu mencolok dari luar, siapa sangka Bebek Tepi Sawah selalu ramai dikunjungi para wisatawan dan penduduk lokal. Bahkan tamu-tamunya pun datang dari kalangan selebriti hingga pejabat. Butuh sedikit perjuangan untuk menyantap bebeknya yang populer, terutama di jam-jam makan siang.






——-

 Meet The Owner, I Nyoman Sumerta








 



Barangkali sedikit yang mengetahui otak di balik kesuksesan sebuah brand rumah makan lokal paling populer di Ubud sekaligus di Bali yang bernama khas Bebek Tepi Sawah itu. Adalah I Nyoman Sumerta, sesosok pria berdarah Ubud tersebut berhasil membangun ‘kerajaan’ kulinernya dari titik paling minus. Kesuksesan yang kini ia terima berkat ide revolusioner kuliner Bebek tepi Sawah tersebut sebanding dengan perjuangannya yang harus tertatih-tatih terlebih dahulu dalam mengeruk berbagai macam pengalaman hidup. Terlahir di sebuah keluarga kecil dan sederhana, Nyoman begitu sapaan akrabnya tak punya modal apalagi kekayaan yang melimpah. Semuanya ia bangun dengan kerja keras sedari remaja. Kini dengan omset ratusan juta setiap bulan dengan gerai-gerai yang berekspansi hingga ke luar daerah membuat suami dari seorang penari Bali, Ni Nyoman Sulasih ini mampu menjadi salah satu  pengusaha kuliner Bali tersukses saat ini. Meski usaha kulinernya tersebut telah diwariskan pada kedua putranya, Putu Gede Suarsana dan Ketut Suarjaya, pria kelahiran 23 Februari 1957 ini tetap memantau perkembangan Bebek Tepi Sawah, bahkan berbagai macam ide dan rencana kedepan pun telah dipersiapkannya demi kemajuan restoran yang populer dengan hidangan bebek serta pemandangan sawahnya tersebut. Kepada Money & I Magazine, Nyoman pun mengutarakan rencana-rencanya tersebut sambil membagi sekelumit pengalaman hidupnya yang sangat inspiratif. Berikut petikan wawancaranya!

Bisa ceritakan bagaimana pengalaman-pengalaman hidup Anda mampu berkontribusi penuh dalam membangun insting bisnis Anda saat ini?

Boleh dikata semua yang saya raih sekarang ini, salah satunya berkat faktor orangtua. Dari kecil saya sudah akrab dengan yang namanya berdagang. Waktu itu, saya sering bantu ibu yang kesehariannya memang berprofesi sebagai seorang pedagang. Saya masih ingat bagaimana warung kami dulu itu kecil sekali. Saya biasanya bantu beliau dengan menjual es-es lilin ke kantin sekolah. Pernah juga jualan kacang hingga kopi. Kalau ibu sedang ke pasar, pasti saya bantu beliau membawa belanjaannya seperti gula dan beras yang berkilo-kilo itu. Menginjak remaja sekitar umur 14 tahun, saya mulai tuh menawarkan jasa tukar dollar, dimana saat itu saya mesti bolak-balik Ubud-Kintamani. Berbekal sepeda motor dari Ubud, saya bawa rupiah untuk turis-turis yang ada di Kintamani. Belum habis sampai disitu, saya juga pernah bantu jadi guide turis-turis yang mau keliling Bali. Biasanya saya dapat tamu itu dari Puri Saren Ubud. Lantas pada tahun 1975, bapak saya coba pinjam uang di Bank Budidaya agar bisa beli bemo. Saat itu harga bemo cukup mahal pada zamannya sekitar Rp 2.725.000. Jam 4 pagi biasanya saya sudah bersiap-siap untuk ‘nambang’ penumpang. Cari penumpang di Ubud, kemudian ngambil rute ke Denpasar, dan bahkan ada yang sampai Padang Bai. Dan kira-kira tahun 1979, baru saya merambah sebagai sopir taksi. Kalau tidak salah, itu bertahan hingga 2 tahun.

Apa yang dapat Anda petik dari sana?

Kehidupan yang mengajarkan saya untuk punya mimpi yang lebih besar. Saya selalu menanamkan kerja keras dalam diri saya maupun kepada anak-anak saya. Kerja keras tersebut juga harus dilandasi dengan bhakti kepada-Nya. Selain itu, disiplin, respek dan menghargai kerja keras seseorang serta mampu bekerja dengan ketulusan pasti niscaya akan diberi jalan untuk meraih mimpi-mimpi besar yang telah lama kita perjuangkan tersebut. Dengan menanamkan kejujuran saat kita melakukan sebuah tugas pasti orang-orang pun menjadi respek dan percaya dengan kinerja kita. Inilah yang akan membuat kita banyak disukai orang, sehingga akan memperluas daya networking kita sendiri.














Melihat dari rekam jejak Anda, usaha yang Anda pernah geluti terbilang banyak. Sebenarnya usaha apa yang menjadi fokus utama Anda?
Saya memang tipe orang yang suka mencoba hal-hal baru. Saya pernah coba untuk usaha garmen bahkan hingga produksi wig sekalipun. Tapi kini, saya lebih fokus dengan bisnis restoran, vila dan galeri saja.

Bagaimana sebenarnya ide Bebek tepi Sawah itu bisa tercetus?

Bebek Tepi Sawah ini dulunya hanya restoran kecil. Malah belum ada yang namanya menu bebek crispy itu sebagai primadona seperti sekarang. Kami dulu hanya menjual semacam kudapan ringan bagi tamu yang tengah berkunjung ke galeri saya. Saat itu saya menjual kudapan alakadarnya seperti jus, kopi, hingga pisang goreng. Hal itu saya lakukan demi menyokong pemasukan untuk membayar gaji para karyawan galeri. Perlu diketahui, waktu itu lagi zamannya krisis moneter, pasca kejatuhan soeharto, kunjungan wisatawan pun anjlok secara drastis. Awal mula berdirinya Bebek Tepi Sawah itu sendiri juga dilatarbelakangi oleh hobi saya yang doyan makan dan memasak, khususnya masakan Bali. Di keluarga besar, mungkin hanya saya yang punya hasrat tinggi dalam bidang kuliner.

DSC_2630Bagaimana Anda bisa menciptakan keotentikan dari cita rasa Bebek Tepi Sawah itu sendiri?

Khusus untuk masakan Bali nya, seluruh racikannya merupakan resep keluarga. Saya bukan seseorang yang suka meniru, jadi resep yang saya coba sajikan disini pun merupakan hasil kreasi saya dan keluarga sendiri. Karena saya orang Bali, sehingga saya tahu persis bagaimana standar lidah orang Bali terhadap masakan saya.

Mengapa Anda memilih Bebek sebagai sajian utama?

Kenapa bebek? Ya simpel aja karena itu adalah makanan yang saya suka. Rata-rata seluruh hidangan yang disajikan di Bebek Tepi Sawah adalah makanan-makanan favorit yang sering saya santap. Begitu pun saat ada penambahan menu untuk mix seafood maupun pork ribs, tidak hanya sebagai penarik perhatian wisatawan asing melainkan juga berawal dari ketertarikan saya terhadap makanan tersebut. Nah, kebetulan menu bebek ini yang memang sering dipesan oleh para pengunjung.

Melihat lokasi Bebek Tepi Sawah yang cenderung menjorok ke dalam hampir tidak terlihat mencolok diluar, terlebih lokasinya berada di jalur yang bisa dikatakan jarang sukses ditempati oleh usaha rumah makan. Bagaimana Anda bisa memaksimalkan potensi Bebek tepi Sawah?

Dulu saya sempat berpikir seperti itu. Lokasi bebek tepi Sawah ini kan juga termasuk jalur pariwisata yang strategis karena selain melewati Desa Mas dan Ubud, juga akan melalui Obyek Wisata Goa Gajah. Prediksinya kan sudah pasti kunjungan wisatawan akan terus ramai. Tapi kok tidak ada restoran lainnya selain Bebek Tepi Sawah yang masih bertahan. Nah jawabannya sekali lagi terletak pada kekuatan networking itu sendiri. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa guide, sopir taksi dan rekanan itu pula yang berkontribusi dalam mendatangkan pengunjung kemari. Selain itu saya juga mengajarkan para karyawan bagaimana membangun hospitality yang baik di mata para customer. Sehingga mampu mengangkat imej Bebek Tepi Sawah dan tanpa ditunggu pun, pengunjung pun akan datang silih berganti.

Sebelumnya Anda sempat mengatakan juga fokus terhadap galeri seni yang Anda kelola. Sejak kapan Anda tertarik dengan dunia seni?

Dari dulu saya memang sudah suka seni, mulai dari seni lukis, patung hingga seni tari. Sederhananya begini, di saat anak-anak sebaya saya biasanya pergi main ke sawah, saya justru malah lebih tertarik untuk menikmati dan mempelajari seni itu sendiri. Bahkan di umur 8 tahun, saya sudah mulai menikmati pertunjukan-pertunjukan tari dan gamelan di salah satu sanggar di saerah Ubud. Telinga saya ini selalu terhipnotis tiap kali mendengar suara gamelan. Begitu pula dengan melukis, saya belajar banyak dengan seniman-seniman di daerah Pengosekan.

Jadi mana yang terlebih dahulu Anda cetuskan, usaha kuliner atau galeri dan sanggar seni tersebut?

Sanggar Dewi Sri yang saya bina sekaligus art-gallery di restoran ini bahkan sudah ada terlebih dahulu sebelum Bebek Tepi Sawah didirikan. Ketertarikan saya yang berlebih terhadap dunia seni, selalu membuat saya bermimpi untuk punya sanggar sendiri atau pun sebuah galeri seni. Pertimbangan saya begini waktu itu; kebetulan saya memang bisa melukis dan punya banyak teman yang juga pintar melukis, tidak ada salahnya untuk membuat sebuah galeri seni pribadi. Kebetulan juga saya punya banyak kenalan guide yang bisa membawa tamu-tamunya untuk berkunjung ke galeri saya. Bukankah ini juga bisa jadi peluang bisnis?! Maka dengan berbekal modal pinjaman di Bank Budidaya (kebetulan mereka punya program kredit investasi kecil) pada tahun 1981, saya pun akhirnya mantap untuk membuka galeri seni pada  tahun 1989. Ada dua galeri saat itu yakni Soraya Gallery dan Sumerta Gallery. Untuk sekarang yang masih bertahan hanya Sumerta Gallery, dimana kini menampung hampir 1000 koleksi baik saya maupun koleksi beberapa rekan seniman. Sanggar seni yang saya kelola tersebut seyogyanya mengemban misi mulia dalam pelestarian kesenian Bali klasik, seperti fokus kami terhadap permainan gamelan Semara Pegulingan serta Tari Legong.

DSC_2599Sebagai seorang pelukis, apakah Anda pernah ikut turut serta dalam sebuah ajang pameran seni rupa di luar dari galeri seni yang Anda miliki?

Pernah, beberapa kali sempat di Jakarta serta Hongkong dan Singapura

Kembali lagi bicara tentang Bebek Tepi Sawah, apa sesungguhnya kunci kesuksesan usaha kuliner Anda ini?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, intinya adalah networking. Saya itu tipikal orang yang gampang bergaul dengan siapapun. Rekan-rekan mengenal saya sebagai pribadi yang ramah dan sopan. Bagaimana kita mampu menjalin hubungan yang baik dengan para guide maupun sopir taksi. Karena merekalah yang  nantinya akan mengantarkan sekaligus merekomendasikan kepada tamu-tamunya untuk singgah ke Bebek Tepi Sawah. Maka dari itu kita tidak terlalu banyak menghabiskan biaya untuk promosi. Saya percaya bahwa rekomendasi dari mulut ke mulut itu punya kontribusi yang cukup kuat untuk Bebek Tepi Sawah. Jika bisa saya hubungkan dengan ketertarikan saya terhadap seni, hal ini ternyata juga mampu membukakan pintu bagi saya untuk membangun banyak relasi dengan orang-orang yang cukup berpengaruh. Sehingga melalui networking tersebut terjalinlah pertemanan yang ternyata juga berpengaruh terhadap perkembangan bisnis kuliner yang saya geluti saat ini. Bisa saya contohkan juga seperti salah satunya saya pernah ikut serta dalam pameran lukisan yang diselenggarakan oleh Yayasan Tiara Indah milik Bu Tutut. Di sanalah, akhirnya saya mendapatkan banyak relasi dan membangun pertemanan dengan orang-orang penting. Mereka pun tanpa segan menghubungi saya kalau datang ke Bali. Jika mereka kemari, pasti saya selalu ajak untuk mencicipi hidangan di restoran ini. Bahkan salah satu dari merekalah yang juga memotivasi saya untuk fokus menekuni bisnis kuliner ini. Ya kembali lagi ke kekuatan rekomendasi dari mulut ke mulut itulah yang membuat bisnis ini semakin berkembang.

Apa target Anda ke depan untuk usaha kuliner maupun usaha-usaha Anda lainnya?

Tidak cuma saya, siapapun pasti punya mimpi terbesar dalam dirinya untuk menjadi seseorang yang sukses. Saya pun punya mimpi untuk melebarkan sayap Bebek Tepi Sawah hingga ke seluruh Indonesia. Mei 2012 lalu, Bebek Tepi Sawah telah sukses membuka gerai pertamanya di luar Bali yakni di daerah Tangerang. Untuk tahun ini kami berencana membuka lagi di daerah Bangka Belitung. Semuanya memang saya targetkan untuk dikelola secara franchise. Di Bali sendiri, Bebek Tepi Sawah tidak hanya

bermain dalam lingkup Ubud saja, tetapi juga menyasar wilayah Seminyak, Tuban dan sekaligus daerah Batu Belig. Selain fokus dengan pengembangan Bebek Tepi Sawah, saya juga berencana menambah 26 villa lagi di sini.

Teks: Putra Adnyana

sumber

Foto: Gus Baruna